Sabtu, 08 Juni 2013

Renungan Hari ini



Renungan Harian Kristen - 08 Juni 2013

Yang Berharga!

Bacaan: I Petrus 3:1-6

Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi...,yang sangat berharga di mata Allah.- Petrus 3:4


Tidak dapat dipungkiri bahwa media dan berbagai pendapat tentang pentingnya penampilan sekarang ini telah membius pikiran bawah sadar kita untuk menerima dan mengikutinya. Dari manakah orang serempak berpendapat bahwa wanita yang cantik adalah yang bertubuh langsing, berkulit putih dan berambut panjang? Pendapat kelompok tertentu yang berhasil membentuk pola pikir seperti itulah yang telah melakukannya.
Padahal di jaman dulu tiap wilayah dan etnik tertentu memiliki kriteria dan pandangan sendiri-sendiri tentang kecantikan maupun ketampanan seseorang. Ada suku-suku yang berpendapat bahwa wanita cantik adalah yang bertelinga panjang, atau berleher sangat panjang dengan gelang-gelang di lehernya. Adapula yang menganggap bahwa wanita dengan telapak kaki yang sangat kecil sangatlah anggun hingga para wanita rela mengikat kakinya dan tidak pergi kemana-mana.
Bila seorang wanita dengan rambut shaggy di cat kepirangan hidup di jaman kakek nenek kita, ia akan dianggap kurang waras. Namun kini dengan kehadiran media dan trendsetter tertentu, kita bisa "sepakat" berpendapat tentang kecantikan maupun kriteria idealnya penampilan fisik seseorang. Kini tiap tahun orang menetapkan trend tertentu yang "wajib" diikuti masyarakat.
Itulah sebabnya kita perlu memperhatikan apa saja yang masuk ke telinga dan pikiran kita. Disadari atau tidak, cara berpikir kita sangat dipengaruhi oleh pendapat yang masuk ke dalam pikiran kita. Bila saat ini media begitu menggembar-gemborkan betapa pentingnya penampilan yang trendy dan modis, jangan pernah lupa dengan apa yang Tuhan anggap penting tentang penampilan kita.
Perhiasan rohani yang Tuhan inginkan untuk kita miliki adalah karakter seperti Kristus. Bila Tuhan saja begitu menghargai nilai sebuah karakter dalam diri kita, bukankah seharusnya kita juga sependapat dengan Dia? Tuhan jelas lebih tahu cara menilai sesuatu karena Ia maha tahu. Tuhan mengerti manakah yang akan bertahan kekal dan manakah yang sifatnya hanya sementara. Seringkali kita tertipu tentang hal ini karena kita tidak mengetahui nilai kekal sesuatu. Hari ini mintalah Tuhan untuk mengubah cara penilaian kita yang salah tentang hal-hal lahiriah.

Kamis, 06 Juni 2013

Renungan Hari ini



Renungan Harian Kristen - 07 Juni 2013

Perbesar Hati

Bacaan: Yeremia 16:16-18

Semuanya itu tidak tersembunyi dari pandanganKu.- Yeremia 16:17


Saya tertarik dengan sebuah statement yang dilontarkan oleh BC Gorbes, seorang Executive Intelligence, yang berkata demikian, "Ukuran tubuhmu kurang penting, ukuran otakmu agak penting, ukuran hatimu yang paling penting." Untuk mencapai sebuah keberhasilan dan kemenangan justru hati atau jiwa yang besarlah yang sangat diperlukan.
Saya menghubungkan pernyataan BC Gorbes itu ke dalam dunia rohani, dan saya sangat setuju bahwa kekristenan yang berkenan kepada Tuhan selalu didasarkan dari hati yang mengasihi Tuhan, bukan penampilan lahiriah kita juga bukan pengetahuan kita tentang hal-hal rohani. Mengadaptasi pernyataan BC Gorbes tersebut boleh saya katakan bahwa penampilan lahiriah kita kurang penting, pengetahuan kita tentang Allah agak penting, dan iman serta hati yang mengasihi Tuhan adalah yang paling penting.
Kekristenan tanpa didasarkan oleh hati yang mengasihi Tuhan akan sia-sia belaka. Kita boleh saja punya penampilan lahiriah yang menawan dan mengundang decak kagum banyak orang, namun jika hati kita tidak sebersih pakaian putih yang kita kenakan atau hati kita tidak semanis perkataan kita maka kita tidak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan. Atau boleh saja kita punya pengetahuan tentang isi Alkitab secara luar biasa, bahkan di belakang nama kita masih ada sederet embel-embel gelar teologia, namun jika isi Alkitab hanya sebatas di pikiran saja dan tidak ada di hati maka hal itu juga tidak ada gunanya.
Manusia bisa kita tipu dengan penampilan luar kita tapi bagaimana mungkin kita bisa menipu Tuhan? Bukankah Tuhan lah yang menyelidiki hati manusia, bahkan sampai dasar hatinya yang paling dalam. Bukankah Tuhan sendiri berkata, "Sebab Aku mengamat-amati segala tingkah langkah mereka, semuanya itu tidak tersembunyi dari pandanganKu dan kesalahan mereka pun tidak terlindung di depan mataKu?" Ingin menjadi orang Kristen yang berkenan di hadapan Tuhan? First things first, yang pertama dan yang paling utama, perbesarlah hati kita di hadapan Tuhan. Jangan buang-buang waktu hanya dengan memperhatikan penampilan lahiriah atau hanya menambah pengetahuan saja tanpa ada hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.

Renungan hari ini



Renungan Harian Kristen - 06 Juni 2013

Warisan

Bacaan: II Timotius 1:5; 3:14-15

Aku teringat akan imanmu..., yaitu iman yang hidup di dalam nenekmu Lois.- II Timotius 1:5


Menjadi keinginan bagi semua orang tua untuk bisa mewariskan sesuatu bagi anak-anaknya kelak. Yang pasti, sebagai orang tua tentu ingin anak kita memiliki hidup yang lebih baik. Kita mempunyai sebidang tanah, maka kita akan mencoba membagi tanah itu dengan adil sebagai warisan bagi anak-anak kita. Atau bisa saja warisan yang akan kita berikan berupa harta benda, kekayaan, perusahaan atau barang berharga lainnya yang kita miliki. Lalu, bagaimana seandainya kita tidak memiliki semua benda-benda berharga itu? Apakah itu berarti anak kita tak akan mendapat warisan apa-apa dari kita? Masih ada satu hal lagi hal berharga yang bisa kita wariskan kepada anak-anak kita. Ini jauh lebih berharga dari semua harta benda itu dan yang unik, semua orang bisa mewariskan hal ini tanpa terkecuali. Warisan seperti apakah itu?
Pengenalan akan Tuhan dan teladan hidup yang baik! Warisan dalam bentuk harta benda bisa habis lenyap. Perusahaan bisa bangkrut. Tanah bisa menjadi sengketa besar. Deposito bisa habis. Tapi jika kita mewariskan pengenalan akan Tuhan maka kita sedang mewariskan sesuatu yang bernilai kekal. Jika kita mewariskan teladan hidup yang baik dan hidup takut akan Tuhan, maka anak-anak kita akan bertumbuh menjadi orang yang luar biasa di dalam Tuhan.
Saya sangat tertarik mempelajari pohon keluarga dari Timotius. Tentu kita kenal Timotius sebagai anak muda yang dipakai Tuhan secara luar biasa pada jamannya. Timotius bisa sehebat itu karena menerima warisan rohani berupa pengenalan akan Tuhan dari Eunike, ibunya. Uniknya, Eunike bisa mengajar Timotius hidup takut akan Tuhan karena ia menerima warisan rohani dari ibunya yang bernama Lois. Lois memberi warisan yang begitu berharga bagi anak cucunya! Saya tak bisa bayangkan seandainya Lois atau Eunike tak mewariskan pengenalan akan Tuhan dan hidup takut akan Tuhan, mungkin ceritanya akan berbeda. Bisa jadi kita tak pernah kenal nama Timotius sampai hari ini! Mewariskan harta benda dan barang berharga bagi anak cucu kita memang penting, tapi jangan lupa bahwa ada warisan yang jauh lebih penting dari semuanya itu. Pengenalan akan Tuhan, hidup takut akan Tuhan dan memberi teladan hidup yang baik. Hal itu bisa kita wariskan mulai saat ini! Tak semua orang bisa mewariskan harta benda kepada anaknya, tetapi semua orang bisa mewariskan pengenalan akan Tuhan kepada anak cucunya.

Rabu, 05 Juni 2013

Renungan spirit hari ini



Renungan Harian Kristen - 05 Juni 2013

Sediakan Waktu

Bacaan: Efesus 6:4; Kolose 3:21

Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu supaya jangan tawar hatinya.- Kolose 3:21


Semua orang juga tahu siapa Norman Vincent Peale, seorang pencetus positive thinking. Buku-bukunya seperti The Power Positive Thinking, Anda Bisa Jika Anda Pikir Anda Bisa selalu bertengger dalam deret buku best seller. Ia seorang penulis terkenal, pembicara yang populer dan masih banyak lagi kegiatan yang menyita waktu. Kalau boleh dikata, dia adalah seorang manusia yang super sibuk. Meski demikian saya terkesan dengan sepenggal kisah yang menceritakan betapa pedulinya Peale dengan keluarganya. Di tengah-tengah kesibukannya yang rasanya tak boleh diganggu sedikitpun ia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan anak-anaknya meski hanya sekedar mendengar cerita ringan ataupun keluhan.
Sayangnya tak semua orang tua punya sikap seperti Peale yang selalu memberi waktu dan perhatian bagi anak-anaknya. Begitu banyak alasan. Tentu saja alasan yang paling utama adalah kesibukannya. Di samping itu masih ada sederet alasan lain seperti capek, baru tidak mood, sedang ada masalah, waktunya tak pas, dll. Meski hanya menyediakan telinga untuk mendengar, kadangkala kita begitu berat melakukannya. Lalu ketika anak kita yang merasa tak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita mulai berulah dan cari pelarian sebagai akibat rasa kecewanya terhadap sikap kita, barulah kita dibuat bingung dan kelabakan.
Seandainya kita selalu memberi waktu bagi anak-anak kita, tentu tak ada anak yang merasa tak diperhatikan. Selain itu kita akan memberi rasa aman kepada anak-anak kita. Sehingga mereka tak segan-segan untuk mencurahkan isi hatinya dan menjadi sangat terbuka terhadap kita. Bukankah ini sebenarnya akan memudahkan kita dalam mendidik anak kita?
Bagaimanapun juga anak lebih penting daripada pekerjaan atau kesibukan kita, jadi sebenarnya kurang tepat kalau kita berkata tidak ada waktu untuk anak-anak. Jika kita sudah memberi uang lebih kepada anak kita atau sudah membelikan ini itu dan mencukupi semua kebutuhannya, kadangkala kita sudah merasa menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab. Padahal sebenarnya kebutuhan anak tak sebatas itu saja. Kadangkala seorang anak lebih menginginkan sebuah hubungan yang erat dengan kita lebih dari semua pemberian yang diterimanya. Belum terlambat jika kita mau menyediakan waktu yang lebih lagi bagi anak-anak kita.

Selasa, 04 Juni 2013

Renungan spirit hari ini

Renungan Harian Kristen - 04 Juni 2013

Rasa Takjub

Bacaan: Mazmur 66:1-20

Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatanNya ... - Mazmur 66:5


Selama tiga dekade Abee hanya melihat kegelapan. Ia tidak pernah melihat indahnya pelangi seperti yang diceritakan banyak orang. Ia tidak pernah melihat kerlip bintang pada waktu malam yang selalu menjadi inspirasi bagi seorang penyair untuk menuliskan keindahan. Bunga yang warna-warnipun hanya menjadi “kata orang”, ia tidak pernah melihatnya sendiri. Begitu menyedihkan orang yang buta sejak lahir. Namun sekarang kita akan segera melihat senyumannya. Dokter bedah mata sudah mengoperasi matanya dan ia segera melihat apa yang selama ini diceritakan banyak orang kepadanya. Rasa takjub yang tak pernah henti! Ternyata indahnya pelangi, bunga yang berwarna-warni atau kemilau bintang di malam hari jauh lebih indah dari apa yang diceritakan banyak orang. Rasanya tak pernah bosan untuk melihat dan mengagumi apa yang dilihatnya.
Berbeda dengan reaksi yang kita tunjukkan saat melihat keindahan alam. Bagi kita indahnya pelangi atau indahnya bunga di taman menjadi begitu biasa bahkan kita sudah tidak memiliki rasa takjub lagi akan semuanya itu. Mengapa? Karena bagi kita semuanya itu sudah menjadi begitu biasa. Bukankah benar pernyataan ini? Jika sesuatu sudah menjadi biasa, hal itu akan menurunkan tingkat kekaguman kita kepadanya.
Hubungan kita dengan Tuhan juga kurang lebih seperti itu. Seandainya kita menganggap Tuhan sudah menjadi begitu biasa, kedatanganNya biasa, penderitaanNya biasa, pengorbananNya biasa bahkan kemuliaanNya biasa, maka tingkat kekaguman kita akan semakin menurun. Jangan buat anugerah Tuhan dan semua yang Tuhan buat dalam kehidupan kita menjadi biasa. Jika kita melakukan hal itu, percayalah, hati kita akan selalu takjub dengan apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Hal-hal sederhana yang tiap saat kita alami akan menimbulkan rasa takjub yang begitu mendalam seandainya kita melihat semuanya itu sebagai wujud kasih sayang Tuhan kepada kita. Mulut kita tak pernah berhenti untuk mengucap syukur atas kasih setia dan kebaikanNya. Itu sebabnya biarlah kita mau punya sikap seolah-olah kita ini seorang Abee yang melihat keindahan untuk pertama kalinya, rasa takjub yang tak pernah hilang...

Jika sesuatu sudah menjadi biasa, maka itu akan menurunkan tingkat kekaguman kita terhadapnya.

Minggu, 02 Juni 2013



Renungan Harian Kristen - 02 Juni 2013

The Window

Bacaan: I Tesalonika 5:16-18

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus .. - I Tes 5:18


Mungkin Anda pernah membaca kisah singkat yang ditulis oleh G.W. Target yang berjudul “The Window”. Ini kisah tentang dua orang pasien di sebuah kamar rumah sakit yang sempit. Seorang pasien berada di sudut ruangan sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa, sementara pasien yang satunya lagi berada di dekat jendela yang terbuka. Pasien yang berbaring di dekat jendela ini selalu men- ceritakan hal-hal indah yang dilihatnya. Ia menceritakan tentang sebuah danau kecil yang dilihatnya. Ia menceritakan indahnya bunga yang berwarna-warni mengelilingi pohon ek yang kokoh. Siang malam ia selalu menceritakan hal-hal indah yang dapat dilihatnya kepada temannya yang berada di sudut ruangan itu. Tak lama kemudian, pasien yang berbaring di dekat jendela ini meninggal karena kronisnya penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Segera sesudah itu, pasien yang berada di sudut ruangan meminta kepada petugas rumah sakit untuk pindah di ranjang bekas pasien yang meninggal itu dengan harapan akan melihat semua hal indah seperti yang diceritakan kepadanya selama ini. Dengan jantung berdegup kencang membayangkan apa yang akan dilihatnya pasien itu perlahan-lahan mengarahkan pandangannya ke jendela itu. Lalu, apa yang dilihatnya? Tak lain hanyalah sebuah tembok kosong!
Lewat cerita populer ini, apakah Anda bisa memetik sebuah pelajaran rohani? Sikap dan cara pandang yang positif! Sejujurnya, sikap ini menjadi sangat langka di jaman ini. Kebanyakan orang akan bereaksi seperti yang dilihatnya. Jika kita hanya melihat tembok kosong, tentu kita akan menjadi bosan dan mengeluh. Jika kita melihat masalah, tentu kita akan menjadi sedih. Jika kita menerima perlakuan yang tidak adil, sangatlah wajar jika kita menjadi marah dan dipenuhi dengan kebencian. Sebenarnya, hidup akan menjadi lebih berat untuk dijalani di saat kita lebih banyak memfokuskan diri kepada hal-hal negatif yang terjadi di sekeliling kita daripada kita mencoba mengarahkan diri kepada iman yang positif.
Apakah hari ini kita sedang berbaring di dekat jendela dengan tembok yang kosong? Meski malam membuat langit menjadi gelap, kita tetap saja bisa melihat indahnya kemilau bintang di malam hari. Dalam situasi yang paling negatif sekalipun, masih ada sisi-sisi positif yang bisa kita syukuri.
Sebuah masalah tidak akan pernah menjadi masalah selama kita melihatnya dengan sudut pandang positif.

Sabtu, 01 Juni 2013


Renungan Harian Kristen - 01 Juni 2013

Runtuhnya Kesombongan

Bacaan: I Petrus 5:5-6; Kejadian 11:1-9

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.- I Petrus 5:5


Ngeri juga melihat pemandangan yang tergambar di sana. Menara yang tinggi namun baru setengah jadi dan tidak selesai dibangun. Mulai berlumut, kotor dan hanya menjadi sarang laba-laba. Sementara masih terlihat batu-batu besar, batu bata, semen, pasir, mesin pengaduk dan besi cor. Belum terlalu lama kita mendengar bisingnya pembangunan menara itu. Para ahli dan pakar arsitektur berkumpul di sana. Setiap pekerja melakukan tugasnya dengan baik, sehingga tidak mustahil kalau menara yang sedang dibangun itu bakal menjadi menara tertinggi di dunia, tentu saja melebihi menara Petronas atau WTC (World Trade Center) yang pernah disatroni teroris. Namun sayang secara tiba-tiba pembangunan itu berhenti dan menyisakan bahan material yang berserakan. Apa pasal? Apa yang salah? Bukan cara membangunnya yang salah, tapi tujuannya yang keliru! Menara impian itu bukan dibangun untuk mengagungkan Tuhan, bukan juga untuk mencari Tuhan, bukan dibangun untuk mengajak orang memandang ke atas kepada Tuhan, bukan juga untuk menyediakan tempat berteduh dalam doa. Lalu menara itu dibangun untuk apa? Sebuah harian surat kabar paling purba menulis, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit dan marilah kita cari nama!” Itulah penyebabnya! Menara itu dibangun untuk mencari kemegahan diri dan egoisme belaka! Semata-mata mencari nama. Menara yang dibangun atas batu kesombongan. Dilapisi dengan adukan keangkuhan!
Tuhan tidak menerima itu. Dulu tidak, sekarangpun tidak. Tidak ada proposal kemegahan diri serta kesombongan yang disetujuinya. Setiap keangkuhan selalu berakibat kehancuran, itu cerita klasik yang selalu bisa ditebak! Manusia diciptakan Tuhan bukan untuk mencari kemegahan diri dan seolah-olah bisa melakukan semuanya sendiri tanpa Dia. Bagaimanapun juga manusia selalu membutuhkan pertolongan dan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya.
Apa yang kita bangun juga akan hancur, jika menara kita didasari dengan batu kesombongan atau kemegahan diri, sebaliknya menara kita akan tegak berdiri jika dibangun atas dasar batu kerendahan hati. Apakah menara kita teguh berdiri ataukah sebaliknya menjadi hancur dan meninggalkan puing reruntuhan?

Kesombongan akan selalu berujung pada kehancuran!